BREAKING NEWS

Berita

Mama-Mama Papua Minta Pemkab Nabire Tak ‘Buta Mata’

Relawan mengkoordinir mama-mama Papua di depan halaman KNPI, Kota Lama, Nabire, Papua. Foto: Mikael/Beko.
Nabire, MAJALAH BEKO - - Mama-mama pedagang asli Papua dalam “Seminar dan Peluncuran Payung untuk Pasar Mama Papua” di Gedung KNPI, Kota Lama, Nabire, Sabtu (19/8/2017) siang, meminta Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Nabire agar tidak ‘buta mata’.

Permintaan tersebut disampaikan setelah mama-mama Papua merasakan uluran tangan mahasiswa peduli ekonomi dan pasar melalui Relawan 500 Payung Peduli Mama-Mama Pasar Papua yang membagikan 266 payung kepada mama-mama Papua.


Dalam diskusi, beberapa perwakilan mama Papua mengungkapkan perasaan hati mereka. Perwakilan mama Papua mengungkap rasa terima kasih kepada relawan dan rasa sedih akibat sangat minimnya perhatian pemerintah melalui instansi terkait dalam menopang pasar dan ekonomi lokal mama-mama Papua di Nabire.

Selain itu, seorang perwakilan mama Papua mengatakan, ekonomi dan pasar mama Papua teralih ke pedagang non Papua.

“Pinang orang pendatang yang jual. Mereka (orang pendatang) juga jualan sayur, mereka buat noken terus jual. Noken itu mereka sudah tahu jahit. Kami yang jualan noken di bawah panas tidak laku-laku. Semua yang kami punya sudah mereka ambil,” ungkapnya.

Oleh karena itu, mama tersebut meminta agar bupati dan DPRD jelih melihat persoalan ini dan membuat sebuah peraturan daerah (perda) yang membatasi aktivitas pedagang non Papua yang membuat mama-mama Papua termarjinalkan.

Sementara, mama Adii, seorang pedagang asli Papua mengaku, mama-mama Papua pernah memasukan proposal ke pemerintah dan DPRD beberapa kali, namun masih belum direspon hingga saat ini.

“Pemerintah dan DPR ada, tapi tidak memperhatikan kita, mama Papua. Kita sudah beberapa kali masukan permohonan, itu pun juga permerintah belum jawab sampai saat ini,” ungkapnya kepada wartawan majalahbeko.com seusai pembagian payung tanpa menyebutkan jenis permohonan dan instansi pemerintah dimaksud.

Mama Adii menambahkan, mama-mama yang berjualan selalu ditemani panas dan hujan. Namun, ia bersyukur atas payung yang dibagikan mahasiswa.

“Banyak yang dipanggil, tapi sedikit yang terpilih. Itu adalah komunitas peduli mama-mama Papua, maka kami akan doakan selalu,” ucapnya.

Selain itu, Mama Gobai, seorang pedagang asli Papua meminta Dinas Perindagkop Nabire agar menyediakan pasar tradisional bagi mama-mama Papua.

“Saya sangat berterima kasih atas anak-anak punya payung, tetapi yang kami kendala adalah pemerintah tidak menyediakan pasar untuk mama-mama Papua. Pasar khusus untuk kami itu harus ada,” ujarnya.

Roberta Muyapa, koordinator umum Relawan 500 Payung Peduli Mama-Mama Pasar Papua juga berharap, aksi solidaritas yang diprakarsainya ini dapat menginspirasi mahasiswa Papua dan membuka mata pemerintah kabupaten setempat melalui instansi terkait.

“Semoga dari kepedulian ini, banyak sukarela di setiap kabupaten atau kota di seluruh tanah Papua agar pemerintah atau pihak terkait dapat memberi tempat layak atau pasar untuk mama-mama di seluruh tanah Papua,” harapnya.

(Mikael/Aten)
Mama-Mama Papua Minta Pemkab Nabire Tak ‘Buta Mata’ Reviewed by Majalah Beko on 09.39.00 Rating: 5
All Rights Reserved by Majalah Beko ǀ Situs Berita Online Papua ©Dedicated for West Papuan Property of CV Media Beko

Hubungi Kami

Nama

Email *

Pesan *

Diberdayakan oleh Blogger.