Breaking News

Berita

Polisi Berulah di Oneibo, Satu Ditembak Mati dan Delapan Kritis

Yulianus Pigai (25), korban yang ditembak mati polisi dan brimob di Oneibo, Tigi, Deiyai, Papua pada 1 Agustus 2017 lalu. Foto: RE/Ist.
Nabire, MAJALAH BEKO - - Elias Pakage, seorang saksi mata mengatakan, aparat Kepolisian Indonesia dari Kepolisian Sektor (Polsek) Tigi dan Brimob setempat kembali berulah. Secara babi-buta, polisi menembak mati Yulianus Pigai (25), seorang warga sipil. Sementara, delapan lainnya mengalami luka-luka tembakan dan kritis.

Pakage yang juga senior dan pemerhati warga setempat ini menuturkan, kejadian ini berawal sejak Selasa (1/8/2017) sore di Kali Oneibo, Distrik Tigi, Kabupaten Deiyai.

Saat itu, Kastianus Douw (24) mandi di kali Oneibo. Hampir setengah jam, Douw tidak timbul ke atas permukaan air. Akibatnya, warga setempat mencarinya dalam air. Warga menaikannya ke daratan setelah menemukan Douw yang masih bernafas dan kritis.

“Saat itu, PT Dewa ada kerja jembatan Oneibo. Di situ ada parkir mobil pick up. Masyarakat semua minta tolong karena korban masih nafas satu-satu. Mereka minta tolong darurat untuk bawa ke rumah sakit di Waghete. Ternyata, orang-orang di perusahaan itu tidak hiraukan permintaan masyarakat. Sehingga, pemuda ambil blakos di Waghete yang jaraknya 10 kilometer dari Oneibo. Lalu mereka bawa korban yang tenggelam itu ke RSUD Madi, Enaro (Paniai),” kata Pakage ketika ditemui wartawan majalahbeko.com, Rabu (2/8/2017) siang di RSUD Siriwini, Nabire, Papua.

Sebelum tiba di RSUD Madi, nyawa korban tidak tertolong. “Dalam perjalanan dari Deiyai ke Enaro nafas korban sudah tidak ada. Akhirnya, mereka bawa pulang jenasah,” katanya.

Akibatnya, warga setempat kecewa. Kekecewaan mereka diekspresikan dengan membongkar camp (kemah atau rumah proyek PT Putra Dewa Paniai).

“Sampai di Oneibo, pemuda dan masyarakat tidak terima dengan alasan, kenapa saat almarhum ada nafas, ada mobil tidak mau bantu. Sehingga, mereka orasi sedikit untuk bongkar camp, bukan mereka bakar dan lain-lain atau merusak alat berat yang kerja di situ, dan karyawan pun mereka tidak pernah pukul, malah mereka selamatkan,” katanya.

Saat itu, tambah Pakage, ia bersama RT Pelipus Pekei berada di Waghete dan dihubungi warga Oneibo soal kejadian ini. Menurut Pakage, aksi warga setempat adalah spontanitas yang wajar-wajar saja.

“Saat itu, saya ada di Waghete bersama RT Pelipus Pekei. Anak-anak sudah lapor bahwa ini kejadian di sana begini. Kakak langsung ke Oneibo. Tapi, kata saya, sementara biarkan mereka keluarkan emosi, jadi biar saja mau bongkar atau apa, biarkan saja asal jangan ganggu karyawan dan alat berat. Memang, mereka lakukan seperti itu,” tuturnya.

Pakage mengaku telah mengatakan kepada pimpinan proyek PT Dewa untuk menyelesaikan persoalan ini di camp PT Dewa, Tigi Dougi, Waghete II.

“Saat saya dan RT Pekei di Yomeni, pimpinan proyek PT Dewa datang. Dia bilang, mari kita ke Oneibo. Tapi, saya bilang, pak, sementara kamu tunggu di sini karena masyarakat masih marah. Nanti saya dan RT Pekei yang selesaikan masalah itu. Saya sudah sampaikan, kita selesaikan di perusahaan camp Dewa. Jadi, kami dua langsung naik ojek ke Oneibo. Kami koordinasi. Akhirnya, beberapa orang kepala suku atau RT yang ada, kita ke Waghete lagi untuk mau selesaikan,” ungkapnya.

Pagake mengatakan, awalnya, tiga anggota Brimob Polsek Waghete mendatangi tempat kejadian perkara (TKP), namun diusir warga yang mengamuk. Setelah itu, tanpa sepengetahuan pihak-pihak yang berwajib, Kapolsek Waghete menurunkan delapan anggotanya dan sembilan anggota Brimob yang bersenjata lengkap di TKP.

“Saat di Toputo, pimpinan proyek perusahaan itu panggil tiga orang Brimob. Akhirnya, anak-anak kejar dan tiga Brimob itu kembali lagi ke Waghete. Setelah itu, pimpinan proyek alihkan ke Brimob lagi yang masih pos di belakang kediaman Bupati Deiyai. Mereka langsung naik satu regu dalam mobil Brimob, termasuk Kapolsek tanpa diketahui kepala suku, saya, dan RT-RT setempat. Kami kan posisinya ada di camp lagi tunggu untuk mau selesaikan. Ternyata, mereka tidak hubungi kami. Mereka diam-diam lari ke Oneibo,” jelasnya.

Pakage menambahkan, keberadaan Kapolsek bersama anggotanya di Oneibo diketahuinya dari warga setempat yang menghubunginya. Ia langsung mendatangi TKP.

“Sampai di sana, masyarakat bel, kakak, anggota Brimob semua ada di sini, ada rebut, jadi kakak ke sini. Saya langsung ke sana,” katanya.

Ia mendengar tembakan yang membabi-buta saat berada di pertengahan jalan menuju TKP.

“Sampai di pertengahan (dekat Oneibo), saya dengar tembakan sudah membabi-buta. Itu jam 4 sore. Mereka tembak-tembak sampai anak-anak jatuh-jatuh. Setelah itu, mereka kembali ke Waghete,” katanya.

Pakage mengatakan, Yulianus Pigai (25) tertembak mati. Sementara, delapan korban lainnya mengalami luka-luka tembakan dan kritis, yaitu Yohanes Pakage (25) di paha (tulang paha patah), Esebius Pakage (13) di telapak kaki, Delianus Pekei (23) di betis, paha, rusuk, dan rahang, Penias Pakage (12) di tangan kanan, Amos Pakage (25) peluru tembus di kaki kiri, Marinus Dogopia (26) di pantat sebelah kiri, Demia Pekei (29), dan Melkias Pakage (13).

“Lalu, kami bawa jenasah dan empat orang kami bawa ke rumah sakit Waghete. Tiga orang itu mereka berobat ke Tenedagi. Itu awalnya. Empat orang masih berobat di Rumah Sakit Waghete. Mereka sudah dipulangkan ke rumah masing-masing. Empat orang, yaitu Delianus Pekei, Marinus Dogopia, Yohanes Pakage, dan Penias Pakage masih berobat di RSUD Siriwini karena kondisi mereka kritis. Yulianus Pigai meninggal kemarin pada jam 7 malam. Kedua pahanya patah dan kemaluannya kena tembakan,” terang Pakage yang sedang mengurus empat korban itu di RSUD Siriwini hingga berita ini dipublikasikan.

Masalah bermula ketika permintaan tolong tidak dihiraukan. Pakage mempertanyakan nilai kemanusiaan PT Dewa yang sedang mengerjakan proyek pembangunan jembatan Kali Oneibo.

“Kalau kita lihat masalah peri kemanusiaan, ada mobil kenapa tidak bisa tolong? Padahal, mereka (perusahaan) datang cari makan di kami punya tanah. Mereka (polisi) bunuh seperti apakah,” tutur mantan tentara di Waghete itu sambil menangis.

(Aten Pekei)
Polisi Berulah di Oneibo, Satu Ditembak Mati dan Delapan Kritis Reviewed by Majalah Beko on 21.05.00 Rating: 5
All Rights Reserved by MAJALAH BEKO ©Dedicated for West Papuan Property of CV Media Beko

Hubungi Kami

Nama

Email *

Pesan *

Diberdayakan oleh Blogger.