Breaking News

Berita

Sang Pejalan Kaki: Pencari Keadilan Bergaya Orang Gila

Oleh : Yusup Awepai Anouw
Ilustrasi. Foto: Ist.
Ini sebuah tulisan cerita pendek sosok pejalan kaki yang adalah seorang pencari keadilan di Hilaga. Dia terbiasa dengan gaya ‘orang gila’ demi mencari keadilan.

Tanpa mengenal lelah dan letih, saya masih berjalan di atas kerikil duri yang tajam dengan celanaku yang compang-camping tanpa beralas kaki untuk mencari sebuah nama; “keadilan“ atas negriku. Nama yang paling indah didengar, namun sulit untuk diwujudkan, tetapi pasti akan terwujud suatu saat nanti. Saya tak tahu berapa banyak tantangan, halangan, dan cobaan yang saya hadapi selama perjalananku yang panjang. Tetapi, kakiku tidak tergeser satu langkah sekali pun dari setiap langkah kaki yang ku pijak di atas kerikil duri jeritan yang masih tajam di jalan ini.  

Saya pun tak tahu, berapa banyak tangisan dan deraian air mata yang saya dapati di jalan ini, yang diakibatkan oleh manusia setengah iblis yang kini masih meraja rela di atas negriku. Entah itu berapa banyak dan berapa jiwa, tak pernah ku perhitungkan satu per satu. Karna, telingaku tuli dan hatiku pun sakit dengan luka sukma kepahitan hidup yang bercampur dengan debu dan kotoran ketidakadilan yang terjadi di atas negriku yang selalu merindukan keadilan abadi. Keadilan abadi itu dirindukan di atas rasa kepahitan hidup yang dirasakan di atas negri yang mereka cintai dari orang-orang yang tidak punya rasa kemanusiawi terhadap sesama manusia.

Entah berapa lamanya saya berjalan, saya pun tidak tahu. Tahun, bulan, bahkan hari, itu bukanlah hitungan waktu yang lama, tetapi lebih dari tahun dan bulan. Celanaku sudah compang-camping, kakiku penuh dengan debu, badanku penuh dengan bau keringat, tetapi itu ialah gaya sederhanaku yang sebenarnya selama di jalan ini. Jalan yang banyak kerikil duri. Tetapi, kedamaian dan keadilan di atas negriku masih tetap ku cari dengan teriakan yang keras di jalan dengan gayaku yang ‘gila’. Gila karna pikiran, dan gila karna mencari surga kecilku yang hilang di beberapa tahun yang silam. Namun, kakiku tidak akan pernah tergeser dari perjalananku yang panjang.  Jalan yang dikelilingi oleh musuhku yang tak pernah ku bayangkan sebelumnya. Saya pun bertanya-tanya, di manakah keadilan dan kedamaian itu dengan teriakan yang keras. Namun, sayangnya, mereka pun diam membisu, seakan tidak tahu apa-apa, tanpa membuang sepatah kata pun. Tetapi, dengan tangisanku, dengan caraku, saya masih di jalan untuk mencari dengan  teriakanku yang keras, agar  keadilan dan kedamian di negriku bisa ku dapatkan.

Walaupun itu belum ku dapatkan, akan ku cari di ujung dunia manapun. Rasanya lelah dan letih, namun saya masih di jalan dan tetap di sini, masih mencari keadilan dan kedamaian yang hilang beberapa tahun yang silam itu. Walau lukaku belum sembuh total di benakku, saya tetap berjalan di atas kerikil duri yang tajam untuk mencari sejarah kedamaian yang sudah lama dibungkam oleh orang yang tidak punya pri kemanusiaan. Entah itu di mana dan kapanpun, kakiku tidak tergeser sekalipun. Karna, hidupku ditertawai, dicaci maki, dihina, diludahi, dan dirampas hakku oleh orang-orang yang tidak memiliki etika kemanusiaan. Karna, tidak ada kedamaian di negriku.

Entah itu kapan dan di mana, rinduku masih menumpuk di benakku untuk mewujudkannya. Perjalananku masih panjang dan masih berlanjut. Langkah kakiku belum tergeser selangkah pun untuk mencari satu nama di atas negriku, yaitu “kedamaian” sejarah. Kedamaian atas negri yang dijajah oleh orang-orang yang tidak mengenal kedamaian. Telingaku sakit dan batinku menangis. Sakit karna luka sukma tangisan anak negriku ini yang belum sembuh total dan akibat kematian musiman terstruktur yang tiada ujungnya. Sebab, tidak ada kedamaian. Batinku menangis karna mendengar jeritan negri ini yang tiada ujungnya tanpa ada kedamaian yang abadi.

Walaupun batinku sakit ataupun tuli, dengan tangisan anak negriku yang tak ada ujungnya, jalanku masih panjang untuk ku pijak, masih di jalan yang sama. Berjalan di atas kerikil duri yang masih terhempas di jalan yang panjang dengan kaki kosong, celana sobek, dan “badaki”. Gayaku memang sedehana. Mereka memanggilku dengan sebutan ‘orang gila’. Karna, celanaku sobek tanpa beralas kaki, bau, dan jorok. Ya, memang saya gila. Gila karna kebenaran sejarahku yang mereka bungkam, gila karna tidak ada kedamaian dan keadilan yang abadi di negriku, gila karna penindasan yang tidak manusiawi, gila karna perampasan yang tidak manusiawi. Itu fakta yang ada di negriku.

Tangisan anak negriku belum terhapus dari segala kebrutalan yang dilakukan oleh  orang-orang yang tidak punya rasa kemanusiaan. Saya masih di jalan ini. Selama kakiku masih bisa, saya berdiri tegak dan melangkah. Saya masih di jalan ini.  Dengan gayaku yang orang-orang sebut dengan sebutan orang gila, saya masih berteriak sebagai orang gila di jalan untuk mencari kedamaian dan keadilan di atas negriku yang kini masih menangis. Menangis karna tindakan yang tidak manusiawi, menangis karna hak hidupku dirampas, menangis karna kebrutalan yang tidak manusiawi. Dan, selama tangisan anak negriku belum terhapus, saya masih tetap di jalan untuk mengejar sejarah kebenaran dan kedamaian yang pernah ada di masa lampau.
Sang Pejalan Kaki: Pencari Keadilan Bergaya Orang Gila Reviewed by Majalah Beko on 13.39.00 Rating: 5
All Rights Reserved by MAJALAH BEKO ©Dedicated for West Papuan Property of CV Media Beko

Hubungi Kami

Nama

Email *

Pesan *

Diberdayakan oleh Blogger.