BREAKING NEWS

Berita

Di Kampung Waijan, Dusun Sagu Digantikan dengan Ladang Padi

Oleh : Feki Wilzson Mobalen
Dusun sagu yang akan digantikan dengan ladang padi. Foto: Dokumen penulis.
Demi pembukaan ladang padi, dusun sagu dan kayu digusur habis. Masyarakat pribumi menangis di pelantara daun sagu, mengenang masa sejarah dan peradaban yang dirusaki oleh oknum yang tidak bertangungjawab yang merusak hutan dan dusun sagu yang mengajarkan hidup dan kehidupan.

Suku Moi Psulau di Kampung Waijan, Distrik Salawati Tengah, Kabupaten Raja Ampat sangat dekat dengan hutan dan dusun sagu. Mereka selalu mengantungkan hidup mereka kepada hutan dan dusun sagu, karena kehidupan mereka punya ikatan yang begitu kuat dengan alam.

Salah satunya, klen marga Napasau, salah satu marga asli Pulau Salawati, suku Moi Fiawat, yang notabenya tingal di Kampung Waijan secara turun-temurun, mempunyai hak wilayat adat di Kampung Waijan.

Pada 2016 yang lalu, ada program Pemerintah Kabupaten Raja Ampat, dalam hal ini dinas pertanian. Dinas Pertanian Raja Ampat merancang satu program pembukaan lahan-lahan baru di Kampung Waijan. Pembongkaran tersebut, dinas pertanian mempercayai pihak keamanan (dalam hal ini Danramil). Lahan tersebut dibongkar di atas dusun sagu milik marga Napasau.

Seorang pemilik hak ulayat, Bapak Yanes Napasau mengungkapkan, “Dinas terkait yang datang membongkar dusun kami tidak minta ijin sama kami. Mereka langsung masuk dengan alat berat mengusur dusun sagu kami. Masalah ini kami sudah melapor kepada pihak yang berwenang, tapi sampai saat ini belum ada kepastian penyelesaian yang jelas”.

“Kami juga masyarakat awam ini mau bertindak, cuma kami tidak punya uang. Kami menghimbau kepada bapak-bapak DPRD Kabupaten Raja Ampat agar dapat membantu kami,” ujar Bapak Yanes.

Seorang pemuda adat setempat, Mika Napasau, mengatakan, “Kami hidup berbaur dengan alam dan alam merupakan ekosistem yang tak pernah putus-putusnya memberikan kehidupan bagi kami. Kami menghimbau kepada pihak pelaku agar dapat bertangungjawap atas perbuatannya bagi kami masyarakat adat di Kampung Waijan”.

Lahan tersebut dibongkar, dibiarkan begitu saja, dan menjadi lahan tidur. Inilah salah satu dari sekian banyak kelakuan Negara terhadap masyarakat adat di Papua Barat.

Mereka (Negara dan antek-anteknya) ingin mengantikan dusun sagu dengan lahan padi. Apakah padi itu makanan pokok orang Papua? Yang jelas, makanan pokok orang Papua adalah sagu dan umbi-umbian.

Tangisan masyarakat pribumi Papua: “Tolong, jangan musnahkan makanan lokal kami dan jangan merusak hutan, dusun sagu, karena itu tempat pertahanan terakhir bagi kami masyarakat adat yang tingal di pinggiran pelantara daun sagu”.

Hanya kata yang terucap, “Bangkit, bersatu, bergerak, dan lawan kaum kapitalis yang rakus wilayah adat kami!“
Di Kampung Waijan, Dusun Sagu Digantikan dengan Ladang Padi Reviewed by Majalah Beko on 09.19.00 Rating: 5
All Rights Reserved by Majalah Beko ǀ Situs Berita Online Papua ©Dedicated for West Papuan Property of CV Media Beko

Hubungi Kami

Nama

Email *

Pesan *

Diberdayakan oleh Blogger.