BREAKING NEWS

Berita

Komentar Petisi Referendum: Pak Wiranto Sebaiknya Akui Saja Bahwa Indonesia Menjajah Papua

Oleh : Beyaz Kum Ap *)
Ilustrasi. Foto: Ist.
Baru saja, saya sedang membaca komentar Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum dan Kemanan (Menko Polhukam), Pak Wiranto tentang Petisi Referendum di meja PBB, yang hangat dipublikasikan oleh Guardian di media massa (online) news.okezone.com (edisi Sabtu, 30/09/ 2017).[1] Intinya, mantan Panglima ABRI (1998-99) itu mengatakan “Jangan menginkari kesetiaan kita terhadap NKRI”.

Sayangnya, bantahan tersebut didasari oleh naluri pembangunan, kesejahteraan, keterbelakangan, dan berbagai alasan yang tidak masuk dalam logika perjuangan rakyat Papua Barat.

Izinkan saya berbicara, Pak, lewat tulisan yang tak sempurna ini.

Tak mau panjang lebar menjelaskan tentang Perjuangan rakyat Papua. Pak Wiranto juga pernah menyaksikan Tragedi Biak Berdarah pada tahun 1998, yang berawal dari aksi pengibaran Bendera Bintang Kejora, di sebuah tower di kota Biak-Papua. Saat itu Bapak menjabat sebagai Panglima ABRI. Tragedi kemanusiaan yang dilakuan oleh Militer Indonesia atas perintah Negara, dalam hal ini pemegang komando tertinggi. Biak berdarah yang dikenang kejihnya: bakar hidup-hidup, dimultilasi dan diperkosa. Tubuhnya tak tertemukan, entah kemana. Entahlah, Pak, itu kasus yang dilupakan oleh Negara Indonesia serta dunia Internasional. Serentetan itu, tragedi Wamena Berdarah (2000 & 2003), Wasyor Berdarah (2001), Abe Berdarah (2006), Paniai Berdarah (2014) dan kasus-kasus yang lainnya. Semua tak ada nilainya di mata Negara ini, Pak.

Benar apa yang ucapkan oleh Jend. Ali Moertopo, Purn. Luhut Panjahitan (saat ia masih menjabat sebagai Menko Polhukam) dan esensi ucapan Bapak, yakni semangatnya menjajah, merampok, menguras kekayaan alam Papua, serta membunuh, membersihkan ras Melanesia di Papua—500 ribu juta jiwa yang hilang dalam pembantai, pembunuhan dalam rangkaian operasi militeristik di Papua sejak tahun 1962-998; hingga detik ini lebih dari jumlah itu.[2]

Kami tak buta menyaksikan eksistensi militer di Papua. Kendati pun Indonesia di jamane reformasi ini, ternyata Papua masih Daerah Operasi Militer (DOM).[3] Misalnya, Brimob, demi mengamakan PT. Dewa di Kab. Deiyai-Papua, 1 meninggal dunia dan 13 lainnya luka-luka parah.[4] Kasus tersebut, menurut Pak Wiranto bukan Pelanggaran HAM Berat too? Iya, saya sudah baca di beberapa media massa.[5] Dan pada akhirnya, 1 nyawa manusia Papua sama harganya dengan hukuman “Minta Maaf” kepada keluarga korban.[6]

Itulah mental Pemerintah Indonesia di Papua, Pak, yang katanya, sungguh-sungguh ingin membangun Papua. Padahal mau membangun West Papua dan tidak, itu adalah urusan Negara kolonial. Sebab semua perlakukan baik, buruk, kejih, kekejaman Indonesia, itu akan menjadi cerita anak-cucu bangsa West Papua di kemudian hari, setelah kemerdekaan. Rakyat Papua akan catat dalam sejarah kehidupan tentang penjajahan pembersihan ras Papua oleh Indonesia.

***

Sekali lagi, Pak, Anda berbicara tentang kecintaan Rakyat Papua terhadap NKRI berasumsi dari mental mejajah. Itu tak kami ragukan. Sebaiknya, Pak, Anda berbicara “Kecintaan Indonesia terhadap kekayaan alam Papua, bukan manusiannya”. Ucapan itu akan seturut dengan realitas sikap dan tindakan Indonesia di Papua. Akan sesuai dengan realitas keberadaan sosial Papua.

Realitas di Papua berbicara bahwa pembangunan moderenisasi Papua yang disertai dengan depopulasi manusia Papua.

Pembangunan jalan trans Papua, rel kereta api, serta infrastruktur pembangunan kota untuk siapa, Pak? Jumlah Populasi penduduk Orang Asli Papua (OAP), menurut Internasional Coalitian for West Papua: tahun 2010-2015, adalah 1.961.000. Sedangkan populasi Non Papua melambung tinggi (termasuk militer RI organik dan non organik), yakni 2.681.000. Entah, sekarang berapa jumlah populasi orang Papua. Dengan adanya kejadian “tabrak lari” setiap saat, mati misterius,[7] penembakan, penangkapan yang berujung di trali besi dan mati, serta mati karena sakit-penyakit.

Ataukah Indonesia mau membangun untuk golongan dominan di Papua (tidak bermaksud rasis)? Sebab, menurut Indonesia, mereka ada sebagai—selain stuktur pemerintahan kolonial di Papua serta korporasi milik imperialis serta kapitalis-birokrat—legitimasi Indonesia di Papua?

Pak. Perspektif Indonesia, golongan dominan di Papua adalah aset pro “NKRI Harga Mati” yang akan melegitimasi status quo Indonesia di Papua, seperti hari ini. Justru Anda keliru, Pak. Bukankah mereka (golongan dominan di Papua) itu adalah golongan pembuangan atas perampasan dan penggusuran tanah dari Sabang sampai Amboina oleh Negara? Tanah dan sumber hidup mereka dirampas oleh Negara bersama kaum pemodal asing dan lokal. Mereka juga punya kesadaran akan penindasan oleh Negara, Pak. Hari ini, Pak, Indonesia menjajah bangsa lain, yakni Bangsa West Papua. Tetapi, suatu ketika, bangsamu akan berontak-revolusi atas sikap dan tindakan para pemimpin Negara (Indonesia)—yang telah berdemarkasi dengan kaum imperialis--yang bermental menjahah itu, Pak, ingat baik-baik.

***

Sekali lagi, Pak, Anda berbicara seakan masalah Papua adalah masalah pembangunan dan soal kesejahteraan. Sebenarnya Bapak justu keliru. Kekeliruan itu datang dari kegagalan Indonesia mengintegrasi Rakyat Papua. Rakyat Papua sadar akan sejarah pembohongan Indonesia, Amerika Serikat dan Belanda kepada orang Papua. Pak, Anda tahu tentang Perjanjian New York (15 Agustus 1962) dan Perjanjian Roma (30 September 1962)? Ketiga Negara (penjajah) itu berdiskusi dan sepakati kepentingan investasi dan kekuasan di Papua tanpa melibatkan orang Papua. Anda tahu apa yang terjadi di 1 Mei 1963, yang disebut oleh Indonesia adalah Integrasi Irian Jaya ke Pangkuan Ibu Pertiwi? Anda tahu Pepera 1969? Apa yang terjadi? Anda tahu berapa orang Papua yang dibunuh dalam operasi militer di Papua untuk memenangkan Pepera 69? Untuk kepentingan siapa semua itu dilakukan? Anda tahu, Pak, Freeport itu masuk 1967, dua tahun sebelum pesta cacat hukum dan sepihak (Pepera 69) itu dilakukan? Ahk, jangan itu. Nanti Anda berbicara hoax. Begini saja. Anda tahu setiap 1 Desember itu rakyat Papua lakukan apa? Dan apa yang terjadi pada tanggal itu di tahun 1961? Kemudian, Anda tahu apa yang terjadi pada 19 Desember 1961 tentang keegoisan Ir. Soekarno untuk West Papua?

Bapak seharusnya tahu. Indonesia di mata Rakyat Papua itu bukan siapa-siapa lagi, selain penjajah. Sikap Indonesia di Papua, itu pun kebijakan dan tindakannya, terus memanifestasi kesadaran akan hal itu, Pak. Sejak Indonesia di Papua, masih segar dalam ingatan kami tentang perampasan hak hidup dan sumber-sumber kehidupan orang-orang Papua dengan pola yang tak manusiawi, Pak. Benar bahwa, di mata Indonesia, orang Papua itu binatang, monyet, bodok, terbelakang yang sedang berjuang untuk menjadi manusia. Itulah salah satu jargon kami, perjuangan kami, bukan soal makan, minum, pembangunan, dan ekonomis, tetapi soal kemanusiaan. Itu semangat kami, Pak.

Akh, Bapak itu Pemimpin Negara Kolonial Indonesia. Bapak pasti tahu apa keinginan rakyat Papua hingga detik ini. Ribuan orang Papua relah masuk penjara, bahkan siap ditembaki hanya menuntuk Hak Penentuan Nasip Sendiri, Pak. “Rerefendum, Yes”, “Papuaaa, Merdekaaaa” teriakan rakyat Papua di jalan-jalan. Teriakan itu tak hanya terdengar Papua. Di Jawa, pusat Ibu Kota Kolonial, Jakarta, Bali, bahkan di Dunia Internasional, Pak. Kami ada di mana-mana. Kami ada sejak kandungan Ibu kami, Bumi West Papua—Ibu Pertiwi itu versi Anda, Pak. Kami akan ada hingga titik darah penghabisan, hingga habis di dalam medam perlawanan mempertahankan harga diri Bangsa West Papua atas nama kebenaran sejarah dan kelangsungan hidup anak cucu di atas Tanah Air West Papua.

Maka, terakhir dari saya dan Bangsa West Papua, kami berjuang untuk Menentukan Nasip Sendiri melalui mekenisme Referendum. Trada yang laen, Pak. Salam Hormat dari kami.

*) Penulis adalah Aktivis Self-Determination, tinggal di Kota Biak Utara



[1] https://news.okezone.com/read/2017/09/29/337/1785909/isu-soal-papua-barat-sampaikan-referendum-ke-pbb-wiranto-jangan-mengingkari-kesetiaan-kita-terhadap-nkri?utm_source=br&utm_medium=referral&utm_campaign=news
[2] http://lama.elsam.or.id/mobileweb/article.php?id=359&lang=in
[3] http://tabloidjubi.com/arch/2011/05/01/ternyata-papua-masih-dom/
[4] https://www.cnnindonesia.com/nasional/20170811204901-20-234150/wiranto-penembakan-di-deiyai-bukan-pelanggaran-ham/
[6] https://www.cnnindonesia.com/nasional/20170831162855-12-238698/penembakan-di-deiyai-empat-polisi-divonis-minta-maaf/
[7] http://thepapuan.blogspot.co.id/2017/09/rentetan-kematian-misterius-orang-papua.html
Komentar Petisi Referendum: Pak Wiranto Sebaiknya Akui Saja Bahwa Indonesia Menjajah Papua Reviewed by Majalah Beko on 08.26.00 Rating: 5
All Rights Reserved by Majalah Beko ǀ Situs Berita Online Papua ©Dedicated for West Papuan Property of CV Media Beko

Hubungi Kami

Nama

Email *

Pesan *

Diberdayakan oleh Blogger.