BREAKING NEWS

Berita

Tentang Seorang Kawanku Bernama Ainan (Fiktif)

Oleh : Filep Mambor
Diplomat Indonesia, Ainan Nuran, saat memberikan hak jawab dalam Sidang Majelis Umum PBB ke-72 di New York, AS. Foto: webtv.un.org.
Rasa cinta kepada negara ini tak perlu ditempuh dengan jalan menyebarkan kebohongan demi menutupi sederetan borok bernanah di atas tubuh pribumi Papua!!!”

Beberapa minggu belakangan ini, Ainan sebuah nama yang ramai diperbincangkan para pengguna media sosial besutan Mark Zuckerberg. Nama ini dikaitkan terutama dengan serangannya terhadap negara-negara kecil di kawasan Pasifik yang membawa isu sensitif tentang Papua di Sidang Majelis Umum PBB ke-72 di New York, AS.

Beberapa jam setelah nama Ainan melejit di Facebook, beberapa kawan sengaja mentag beritanya, dan meminta komentarku. Tentu mereka berharap aku mau turut meramaikan kolom komentar mereka dengan kalimat-kalimat sarkatis, atau sinisme. Tak ku komentari, pertama sungguh tak adil mengeroyok seorang wanita. Apalagi sekedar mengumpatnya lewat komentar-komentar yang lagi ngtrend di media sosial, yakni membuli. Apalagi membuli seorang wanita cantik juga sangat cerdas seperti Ainan. Aku tak sampai hati.

Tentang Ainan yang mendadak jadi sangat terkenal ini aku memang tak tahu banyak tentang latar belakangnya. Praktis aku baru mengenal namanya setelah dia menjadi viral di dunia maya. Untuk beberapa hari, beranda facebook-ku bersliweran status serta share berita tentang Ainan yang dijuluki ‘Singa Betina’ dari Indonesia ini. Hemmm… aku jadi tertarik untuk melihat sendiri penampilannya di Sidang Majelis Umum PBB.

Sebuah keberuntungan hidup di jaman modern yang serba canggih ini, yaitu sekalian dengan gampang mudah untuk didapat. Kehadiran Youtube membuat aku bisa menonton rekamannya. Kulihat videonya ditonton hingga ribuan orang, banyak yang memberi jempol walaupun banyak juga yang tak menyukai. Pro dan kontra adalah hal yang lumrah. Aku beruntung bisa melihat sendiri penampilan Ainan secara lengkap.

Pertama kali menonton videonya, kesanku tentang diplomat muda ini, wajahnya yang khas wanita Indonesia itu sungguh menarik dan masuk kategori cantik. Dalam balutan jas itu, ia terlihat matang dan penuh wibawa. Maklum Ainan perwakilan dari sekitar dua ratus lima puluh juta lebih jiwa dari sebuah bangsa bernama Indonesia yang tinggal di sebuah negara kepulauan dan sangat terkenal dengan segala macam impornya itu. Termasuk garam dapur dan beras. Sebuah negara yang senantiasa dibanjiri smartphone dan mobil dan mode-mode keluaran terbaru. Sebuah negara yang para ibu rumah tangganya sangat menggandrungi sinetron Turki dan India, dan lebih suka mengganti channel berita ke tayangan-tayangan bersifat hiburan semata. Namun, ketika sudah menyangkut “NKRI Harga Mati” berbondong-bondong, para warga negaranya berlomba-lomba jadi pahlawan bahkan nekat berjihad hingga ke Palestina dan Ronghiya. Tetapi ketika ada di antara sesama anak bangsa menjadi korban kekerasan aparat, terutama yang berada di areal-areal perusahaan, dan ketika sebuah petisi online diedarkan, hanya dua ratus orang yang merasa peduli untuk membubuhkan tanda tangan sekalipun Indonesia menempati posisi ke tiga pengguna internet terbanyak di dunia. Bahasa Inggris-nya sungguh fasih, jujur saja aku kagum dibuatnya. Tentu dengan Inggris yang pelafalannya mirip orang Inggris benaran seperti itu, kemungkinan besar Ainan lebih banyak menghabiskan waktunya di luar Indonesia. Pikiran ini setidaknya munculkan sebuah pertanyaan di benakku, seberapa besar pengetahuan Ainan tentang negaranya sendiri? Mengapa minat baca di Indonesia menempati posisi ke-60 di dunia, misalnya? Atau mengapa seorang Setya Novanto
sangat licin bagai belut sehingga hukum tak mampu menyentuhnya? Atau mengapa sejumlah perwira tinggi ditubuh Polri dan TNI tak pernah diadili atas sejumlah kasus penculikan aktivis pada masa lengsernya Jendral Harto? Atau mengapakah seorang Amien Rais itu semakin tua semakin nyinyir mulutnya? Atau barangkali yang relevan apakah pemerintah sudah menggantikan kerugian dari seorang Ferdinand Pakage yang kehilangan matanya sedangkan pelakunya tak dipecat! Atau apakah dalam sekian dasawarsa, pemerintah sudah meminta maaf kepada sekian banyak anak yang turut menanggung akibat dari aktivitas politik orang tuanya yang memilih berseberangan dengan ideologi yang berlaku di negara ini? Kepada anak-anak PKI, misalnya? Atau di Papua sendiri, ada sekian banyak anak yang pernah hidup dengan stigma “anak OPM”. Sampai di mana penyelasaian kasus Wasior Berdarah? Kasus Wamena Berdarah? Kasus Biak Berdarah? Daftar ini bisa diperpanjang dan tulisan ini akan menjadi sangat sangat panjang lantaran mencatat semua kasus kekerasan aparat terhadap orang Papua, pelanggaran HAM, yang terjadi sejak Papua terintegreasi dengan Indonesia dan semua tanpa penyelesaian.

Berbicara dalam sebuah Forum Internasional tentu tak bisa mengandalkan Ingggris pas-pasan seperti diriku yang hanya berkesempatan belajar bahasa Inggris dari film-film Holywood. Ainan adalah contoh kecil dari hanya sedikit orang Indonesia yang berkesempatan menikmati keuntungan dari keberadaan sebuah negara bernama Indonesia. Tak semua orang Indonesia bisa seberuntung dirinya. Terlebih lagi orang Papua yang dibicarakanya di dalam forum itu.

Ketika ia membeberkan data-data tentang Papua, di mataku wajahnya terlihat sungguh profesional, mengingatkanku kepada para artis pemeran sinetron yang sangat menjiwai sebentuk kebohongan. Bukankah film dan sinteron itu adalah sebuah kebohongan yang mesti dimainkan dengan cara-cara yang meyankinkan para penonton? Ketika itu, aku berbisik kepada diriku sendiri, mungkin ada baiknya Ainan yang terkenal ini beralih profesi jadi pemain sinetron, selain didukung dengan wajah cantik, dia terlihat sungguh memiliki bakat jadi artis yang boleh dan bebas untuk hidup dalam sebentuk kebohongan.

Aku maklumi, jika seorang seperti Ainan ini sudah menyebarkan kebohongan karena ia nampak sangat tak memahami Papua, jadi tak heran jika tanpa rasa berdosa dirinya sudah menyebarkan data-data yang kebenarannya masih diragukan oleh banyak pihak. Beberapa orang menyebut Hoax untuk jalan trans di Papua. Beberapa orang menuduh politik pencitraan untuk sekian keberhasilan yang dibuat presiden di atas Tanah Papua ini. Dan, semua itu dibacakan Ainan tanpa mimik berdosa. Atau mungkin itukah tugas seorang diplomat? Ah, seandainya benar, tak bisa kubayangkan apa jadinya dunia ini ke depan jika di dunia ini ada sebuah profesi yang menuntut seorang untuk mematikan detak dari jantungnya sendiri, bahkan lebih gawat lagi harus mampu membungkam nuraninya sendiri.

Tentang Ainan yang terkenal ini, sudah tak terlalu penting di sini untuk kuteruskan. Kini aku lebih tertarik berkisah tentang seorang gadis bernama Ainan juga. Namun dia bukan seorang diplomat ulung sekaliber Ainan yang terkenal itu. Ainan kawanku ini hanyalah wanita biasa, seorang mahasiswi tingkat akhir di salah satu perguruan tinggi di Kota Gudeg, Jogjakarta. Ia menjadi seorang blogger sejak tahun 2009 silam. Yang membedakan Ainan tak terkenal ini dengan Ainan yang terkenal itu, Ainan yang hendak kukisahkan ini pernah menghabiskan masa kanaknya hingga remaja di Papua sebelum mengikuti ayahnya pindah untuk bertugas ke kampung halaman ibunya, Jogjakarta.

Perkenalanku dengan Ainan ini, bermula dari aktivitas blogging-ku dan menemukan sebuah blog yang banyak berkisah tentang kepiluan yang dirasakan oleh anak-anak di sebuah kampung di pedalaman Papua. Sebuah kampung di mana Ainan kawanku ini sudah menghabiskan masa kanaknya di sana. Aku tertarik, karena cara menyampaikan sungguh memikat hatiku, dalam bahasa yang mudah
dimengerti. Gaya minimalis seperti miliknya Ernest Hemingway. Si penulis pun tampaknya sungguh menguasai alam Papua serta kesulitan-kesulitan hidup yang dialami orang Papua, khususnya anak-anak Papua yang hidup di pedalaman.

Ainan menghabiskan masa kanaknya di sebuah sekolah dasar milik YPK. Biarpun memeluk agama Islam, Ainan tak keberatan bersekolah di sekolah milik kaum Nasrani. Sedikit banyak dia paham ajaran-ajaran agama Kristen. Tentang perbedaan agama di antara kami, sebuah pikiran milik Ainan kawanku ini layak untuk kucatat di sini : “Hubungan antara manusa dan sesamanya, antara seorang manusia dengan Tuhan, sudah sepantasanya tak perlu disangkutpautkan dengan sentimen-sentimen pribadi seseorang terutama demi menggapai mimpinya semata. Jika seseorang sudah memasukan sentimen-sentimen pribadinya dalam ranah ini, dan jika ada yang tak setuju, bukankah agama yang sebenarnya hanya menginginkan yang baik-baik saja yang terjadi di muka bumi ini bakal berubah jadi bom yang daya ledaknya melebihi bom atom yang dijatuhkan di Hirosima dan Nagasaki!”

Untuk pikirannya itu tentu aku sangat setuju. Lagi pula membawa-bawa Tuhan dalam beragam persoalan kehidupan apalagi untuk urusan-urusan kenegaraan ― seperti yang kini lagi ngetrend di Jakarta sana ― tak perlu diwujudkan dalam perkataan hingga mengutip ayat-ayat suci segala, tindakan seseorang serta keputusan yang dibuat, itulah yang bisa membuktikan seorang itu sebenarnya bertuhan atau hanya jagoan dalam beretorika. Demikianlah bahwa aku sering menghindari debat soal agama dengan dirinya.

Ainan kawanku ini paham betul tentang isu-isu terkini di Tanah Papua. Pernah Ia menanyakan soal pasar mama Papua sehari sebelum diresmikan Presiden Jokowi. Menurutnya, itu bisa jadi wahana pembelajaran bagi para mama Papua untuk menjadi pedagang sukses di kemudian hari. Ainan menulis dalam blog-nya “Etnik Bugis, juga etnik Jawa dan terutama etnik Tionghoa yang kini sukses sebagai pengusaha di atas Tanah Papua itu dulunya nenek moyang mereka pun memulai dari usaha kecil, mungkin penjajah kelontongan atau pedagang asongan, pemilik warung kecil atau sejenisnya. Cuma kerja keras, tidak konsumtif serta budaya menabung dan jeli membaca pasar ini lah rahasia mereka bisa menguasai perekonomian bukan hanya di Papua tetapi juga Indonesia!”

Dalam sebuah percakapan kami via Whatsapp, Ainan menulis soal itu kembali kepadaku, “Memang sekarang jaman sudah berbeda dengan dulu, dulu dengan modal kecil orang bisa memulai usaha dan kemudian menjadi besar. Sekarang, tanpa proteksi kepada para mama Papua, ku pikir sungguh sulit untuk membuat mereka terus eksis dan survive menghadapi gempuran pasar-pasar modern dan para pemodal besar yang jelih membaca peluang usaha di Papua!”

Untuk pikiranya ini, memang sungguh luar biasa kawanku Ainan yang tak terkenal ini, seandainya saja Ainan yang jadi diplomat itu mau berkunjung ke blog Ainan kawanku ini, mungkin dia akan tercengang kepada dirinya sendiri. Karena banyak isu-isu terkini soal Papua dibahas dan ditulis oleh seorang yang bukan berasal dari Papua dan sama sekali tak ada darah pribumi Papua mengalir di tubuhnya.

Ainan kawanku, juga Ainan yang diplomat ulung itu juga diriku ini, tentu saja kami sama-sama mencintai Indonesia. Kedua Ainan itu pun tengah sama-sama berjuang membela NKRI Harga Mati dengan caranya sendiri-sendiri. Hanya saja, yang membedakan mereka berdua, Ainan yang ku kenal tak suka menyebar kebohongan. Dia bercerita apa adanya tentang Papua dari kacamatanya sebagai seorang yang pernah tinggal dan hidup di Papua.

Dalam suatu kesempatan via Bigo, ketika aku ngobrol secara live dengan Ainan kawanku itu, ia berkata, “Mungkin dia, Ainan itu mesti tinggal dulu barang setahun atau dua tahun di Papua untuk melihat sendiri realita di Papua. Bercengkrama dengan alam Papua yang indah juga melihat sendiri beban hidup orang Papua yang tinggal di sebuah negara yang memiliki Pancasila namun banyak yang bahkan tak pernah tersentuh setiap sila dari Pancasila itu sendiri, cuma karena mereka berambut keriting dan berkulit hitam. Kupikir ini sebuah ironi di negara ini, satu-satunya negara di atas planet bernama Bumi ini yang memiliki Pancasila. Aku beruntung pernah hidup di Papua, sehingga tak mudah menerima pendapat mereka yang tak pernah menginjakan kaki di atas negerimu, namun mereka bisa berbicara seolah-olah mereka dilahirkan dan dibesarkan di atas Tanah Papua. Seolah-olah mereka pun pernah merasakan kegetiran hidup sebagai orang Papua di dalam negara kita yang sama kita cintai ini. Aku senantiasa membatasi diriku, berbicara hanya sebagai orang luar yang pernah berada di Papua, ada banyak hal yang kupikir harus berdiam diri, bukannya aku tak tahu, namun itu adalah kompentensi kalian orang Papua untuk membicarakanya. Dan, seorang diplomat muda sudah mengambil alih hak kalian untuk berbicara!”

Aku setuju dengan kawanku ini. Ya! Kurasakan ada sebersit api dalam diriku, api yang muncul lantaran kepribumianku sebagai seorang yang berdarah setengah Papua sudah tersinggung dengan ucapan Ainan sang diplomat muda. Semoga penamu setajam lidahmu.

Tentang para tahanan politik di Papua yang semakin bertambah di era Jokowi ini lantaran menyuarakan aspirasi secara damai dalam sebuah negara yang konon sangat menghargai kebebasan berbicara ini, Ainan pernah mengatakan kepadaku: “Kebebasan menyampaikan pikiran secara lisan dan tulisan yang dijamin oleh sebuah pasal undang-undang dasar negara kita ini, untuk sementara masih menjadi hak eksklusif yang dirasakan hanya oleh segelitir orang Indonesia dan belum menjadi keharusan untuk dijalankan di sebuah negara yang memiliki keragaman etnis juga problema kenegaraan yang teramat ruwet seperti Indonesia ini! Karena hak berbicara teramat eksklusif bagi kalian, hingga beberapa tahun ke depan, kalian bakal menghadapi penangkapan hanya karena kalian membicarakan keindahan bunga melati yang terjatuh di comberan atau dikubangan tahi kerbau. Kau paham yang ku maksudkan dengan keindahan dan bunga melati, bukan? Kau pun paham apa yang ku maksudkan dengan comberan serta tahi kerbau, bukan?” Ia bertanya kepadaku. Dalam kalimat terakhirnya yang dikemas dalam kalimat berselimut itu, kurasa Dia sedang mewanti-wanti  diriku.

Ainan kawanku ini, dari seorang kanak yang dibesarkan di sebuah pedalaman di Papua, telah bermetamoforsis menjadi seorang pengamat sosial kemasyarakatan di Papua yang handal. Kupikir untuk bisa sampai ke tingkatan Ainan yang tak terkenal ini dibutuhkan proses yang teramat lama untuk memahami Papua dengan sekalian seluk-beluknya dengan segala macam problem yang dihadapi pribuminya.

Sejak tahun 2009 silam, Ainan tak pernah bosan menceritakan lewat blog-nya itu bagaimana ketidakadilan yang harus diadapi orang Papua di atas tanahnya sendiri. Dan, untuk seorang Ainan seperti ini kita patut berterima kasih. Setidaknya, dia tak begitu mudah menelan apa yang dimuntahkan seorang Ainan yang tengah miniti karir sebagai seorang diplomat. Setidaknya dia berusaha mewakili kita berbicara kepada orang lain lewat penanya. Ainan kawanku ini benar-benar mencerminkan seorang Indonesia yang sudah modern, yang mau menerima setiap perbedaan dan tak merasa perlu mempertahankan konsep NKRI Harga Mati dengan segala upaya termasuk menyebarkan kebohongan. Seorang yang telah menerima kenyataan bahwa teramat banyak Pemerintah Indonesia menyakiti orang Papua, sehingga sekedar permintaan maaf itu tak cukup jika tidak disertai itikad baik dalam memandang orang Papua sebagai bagian dari Indonesia yang juga mesti diperlakukan dengan seadil-adilnya tak terkecuali pun dalam bertutur kata dalam sebuah Forum Internasional.

Dan akhirnya, baik aku maupun kawanku, Ainan yang bukan diplomat ulung itu kami sepakat, kita semua sama-sama cinta kepada negara ini, kepada indonesia yang tanah serta airnya sudah memberikan kehidupan kepada kita. Tak peduli seberapa buruk penilaian orang luar terhadap negara ini juga tak peduli seberapa dalam rasa frustasi kita terhadap situasi terkini dari negara kita ini, rasa cinta kepada negara sendiri tetap harus dipertahankan. Tetapi, rasa cinta kepada negara ini tak perlu ditempuh dengan jalan menyebarkan kebohongan demi menutupi sederetan borok bernanah di atas tubuh pribumi Papua!!!

*Manokwari, Oktober 2017
Tentang Seorang Kawanku Bernama Ainan (Fiktif) Reviewed by Majalah Beko on 09.28.00 Rating: 5
All Rights Reserved by Majalah Beko ǀ Situs Berita Online Papua ©Dedicated for West Papuan Property of CV Media Beko

Hubungi Kami

Nama

Email *

Pesan *

Diberdayakan oleh Blogger.